Asal – Usul Perintah Sholat

duniaislamku.com

Sholat adalah ibadah yang menjadi hiasan hidup paling agung pada jiwa setiap manusia yang beriman kepada Allah SWT. Dengan sholat, manusia merefleksikan rasa syukurnya di hadapan Allah atas limpahan nikmat-Nya yang tak berbatas. Manfaat dan keuntungan melakukan sholat dikembalikan pada setiap hamba-Nya yang taat. Maka merugilah jika melalaikan apalagi meninggalkannya. Sebuah tanda kerugian yang akan berkelanjutan di dunia dan akhirat.

Sholat lima waktu yang diwajibkan kepada kita saat ini, diperintahkan kepada Nabi SAW ketika malam isra’ mi’raj. Tepat satu setengah tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah dari Makkah. Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan,

“Pada malam isra’ mi’raj, tepatnya satu setengah tahun sebelum hijrah, Allah mewajibkan sholat lima waktu kepada Rasulullah SAW. Kemudian, berangsur-angsur Allah menerangkan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, serta hal-hal yang berkaitan dengan shalat.”

Sebelumnya, Allah memerintahkan untuk melaksanakan sholat 50 kali dalam sehari semalam. Perintah tersebut Nabi terima dengan ridho dan lapang dada. Sampai kemudian ketika isra’ mi’raj, beliau bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam saat melewati langit keenam. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Ahmad,

Nabi Musa bertanya pada Rasulullah, tentang apa yang Allah perintahkan pada beliau. Rasulullah menjawab bahwa beliau diperintahkan untuk melaksanakan sholat lima puluh kali dalam sehari semalam. Lalu Nabi Musa berkata,

“Umatmu tak akan mampu melakukan lima puluh kali sholat dalam sehari semalam. Karena aku telah mencobanya pada umat sebelum umatmu. Dan aku telah membina Bani Israil dengan susah payah. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan untuk umatmu.”

“Akupun kembali meminta kepada Rabb-ku. Lantas Allah menguranginya sepuluh sholat (sehingga tersisa empat puluh sholat). Lalu aku bertemu Musa kembali. Namun beliau menyarankan seperti yang beliau sarankan sebelumnya.” Terang Rasulullah.

Tags Artikel : Asal Usul Perintah Sholat. Sejarah Perintah Sholat.

Begitu yang terjadi seterusnya sampai Allah memberi keringanan cukup melakukan lima sholat dalam sehari semalam. Namun Nabi Musa tetap menyarankan beliau untuk minta keringanan, seperti saran beliau yang pertama. Hanya saja Nabi malu untuk kembali meminta keringanan lagi kepada Allah ‘azza wajalla.

“‘Aku telah berulang kali memohon keringanan kepada Rabb-ku sampai aku merasa malu. Tetapi aku ridho dan menerima perintah tersebut.’ Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam melanjutkan, ‘Setelah aku melewati Musa, terdengarlah seruan: (Telah Kusampaikan kewajiban (kalian) atasKu, dan Aku berikan keringanan untuk hamba-hambaKu)”

Pada hadis di atas, ditunjukkan bagaimana agungnya kedudukan sholat lima waktu di sisi Allah. Saat Allah mensyariatkannya, Allah langsung memanggil RasulNya dan berbicara langsung mengenai perintah sholat tanpa melalui perantara malaikat Jibril.

Saat pertama kali sholat diwajibkan, seluruh sholat hanya berjumlah dua rakaat. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Aisyah radhiyallahu’anha dalam Hadis Riwayat Bukhari,
“Pada awalnya, sholat itu diwajibkan dua rakaat. Kemudian setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam hijrah, sholat diwajibkan menjadi empat rakaat. Hanya saja ketentuan sholat untuk orang yang safar, seperti ketentuan sholat sebelumnya (yakni dua rakaat untuk sholat yang empat rakaat).”

Ditambahkan oleh riwayat Imam Ahmad,
“Kecuali sholat maghrib (maka tetap tiga rakaat), karena ia sebagai witir. Dan subuh (dua rakaat) karena bacaan sholat subuh (diperintahkan) untuk dipanjangkan.”

Mengenai perintah dipanjangkannya bacaan sholat subuh, dalam Hadis Riwayat Tirmidzi dikatakan,
“Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW berkata tentang kalimat Allah: ‘Sesungguhnya bacaan pada saat subuh (fajar) disaksikan’. Beliau berkata, ‘Disaksikan malaikat malam dan malaikat siang’.”

Maka tidak diragukan lagi jika sholat adalah hadiah dari Allah untuk manusia melalui Rasulullah SAW. Sholat sebagai rahmat untuk memuliakan manusia agar kembali kepada ketinggian derajat, kehormatan dan nilai kemanusiaannya. Juga sebagai perantara untuk mendekatkan diri pada Allah, bukan karena Allah membutuhkan kita melainkan sebaliknya, karena kita membutuhkan-Nya.

Tags Artikel : Asal Usul Perintah Sholat. Sejarah Perintah Sholat.

7 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*