Bagaimana Islam Melihat Perbedaan

duniaislamku.com

Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaannya mampu menyatukan umat, baik sesama muslim ataupun non-muslim, dalam satu tatanan kehidupan. Islam juga memungkinkan adanya perbedaan dalam mengamalkan ajarannya. Perbedaan yang terjadi, karena perbedaan argumentasi. Seperti perbedaan pemahaman dalil, istimbatul ahkami atau proses pengambilan hukum, dan sebagainya.

Perbedaan adalah Hal yang Wajar

Di masa Rasulullah SAW hidup, perbedaan – perbedaan pendapat dalam memahami dan mengamalkan nash-nashnya sudah ada. Demikian pula di masa para sahabat, yang Allah ridha kepada mereka. Keridhaan Allah kepada para sahabat, tidak menghalangi adanya perbedaan pendapat di antara mereka. Bahkan sampai saat ini, perbedaan pendapat masih sering terjadi dalam kehidupan kita.

Perbedaaan adalah sunnatullah yang membuat kehidupan menjadi lebih harmonis. Perbedaan warna misalnya, kita tidak akan mengetahui putih jika tidak pernah ada hitam, hijau, merah dan warna yang lain. Atau kita tidak akan dapat bekerja dengan baik apabila jari-jari tangan kita berbentuk dan berukuran sama seperti jempol. Kita juga tidak akan dapat menikmati makanan yang kita makan jika gigi kita terdiri dari gigi geraham seluruhnya. Demikianlah kehidupan, akan menjadi indah alam semesta apabila terdapat perbedaan wujud juga fungsi. Terutama perbedaan pada sarana hidup.

“Bagaimana Islam Melihat Perbedaan”

Manfaat Adanya Perbedaan

Perbedaan merupakan bagian dari zaman yang tidak terpisahkan dari aspek perbuatan manusia. Dan berbagai macam perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar, sehingga tidak perlu dipertikaikan. Termasuk di dalamnya perbedaan pada bidang social, ekonomi, politik, budaya serta hukum pada lini kehidupan manusia.

Keberagaman atau perbedaan yang dikelola dan dikaji dengan baik dan benar, tidak akan menimbulkan perpecahan atau hal-hal lain yang tidak diinginkan. Keberagaman perbedaan yang menerapkan mutual enrichment atau saling memperkaya kelompok, akan dapat saling menguntungkan. Sebab untuk memenuhi kebutuhan, masing-masing kelompok akan bekerja sama, belajar, serta bertukar pikiran demi terpenuhinya kebutuhan.

Kebutuhan lain manusia yang berbeda-beda juga termasuk dalam kebutuhan akan ilmu. Ilmu Allah yang diibaratkan sebagai lautan, tidak akan pernah ada habisnya. Sebab banyaknya ilmu yang Allah turunkan ke dunia dalam bentuk yang bermacam-macam. Ada ilmu seni, sastra, serta ilmu agama. Ilmu agama yang merupakan jalan hidup, juga acapkali berbeda-beda. Baik dalam dasar penetapannya, prinsip, maupun kaidahnya.

Baca Juga Amalan Sederhana yang Dapat Mengetuk Pintu Surga

Perbedaan Dalam Hal Agama

Perbedaan pada dasar-dasar prinsip serta esensinya menghasilkan perbedaan agama, seperti Yahudi, Nasrani, Majusi dan sebagainya. Perbedaan inilah yang kemudian membuat Allah mengutus para Nabi dan Rasul-Nya untuk meluruskannya. Sebagaimana firman Allah dalam dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 213:

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…”

Perbedaan Dalam Agama Islam

Sementara perbedaan pada kaidah-kaidah umum, muncul setelah terjadi kesepakatan pada dasar prinsip agama Islam. Perbedaan ini sering terjadi pada konsep akibat infiltrasi agama dengan konsep lainnya. Seperti akibat adanya infiltrasi dari konsep Yahudi, muncullah faham materialism, liberalism, sekulerisme dan sebagainya.

Perbedaan lain dalam ilmu agama adalah perbedaan furu’iyyah. Perbedaan ini merupakan perbedaan yang terdapat pada tataran aplikatif, setelah adanya kesepakatan pada masalah-masalah dasar prinsipil dan kaidah-kaidah umum. Perbedaan aplikasi ini sangat mungkin terjadi, karena memang Allah telah menjadikannya agar dapat di kaji serta dianalisa. Dimana perbedaan apapun yang muncul harus dikembalikan kepada Kitab Allah, Al-Qur’an dan Rasul Allah semasa hidup atau kepada sunnahnya setelah beliau wafat.

Comments

  1. Pingback: Etika Debat dalam Islam | Dunia Islamku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *