Etika Debat dalam Islam

duniaislamku.com

Debat pada dasarnya adalah suatu sarana yang digunakan untuk menyampaikan hujah, atau yang diduga hujah oleh dua pihak yang berbeda pendapat. Tujuan adanya debat adalah untuk membela pendapat atau mazhab yang di anut, atau membatalkan hujah salah satu pihak, atau sekedar mengalihkan pendapat pada yang benar.

Dalam Islam, debat adalah suatu perkara yang diperintahkan syariat guna menyatakan yang haq dan membatalkan yang bathil. Sebagaimana firman Allah dalam Qur’an Surat An-Nahl ayat 125:
“Serulah (manusia) pada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”

Debat di Masa Rasulullah

Pada masanya, Rasulullah sering mendebat kaum musyrik Mekah, Nsrani Najran dan Yahudi Madinah. Hal tersebut beliau lakukan untuk amar makruf nahi mungkar, serta memerangi pemikiran yang sesat. Berdebat telah ditentukan sebagai cara untuk melakukan semua aktifitas, kemudian debat menjadi suatu kewajiban selama sesuai dengan kaidah.

Ibnu Aqil pernah berkata, “Siapa saja yang suka menempuh metodologi ahli ilmu, maka ia hanya dibenarkan berbicara dengan hujah (dalil) atau syubhah dalil. Sedangkan selain itu merupakan syagab, yaitu pencampuradukan yang haq dan yang bathil, yang dilakukan oleh ahli debat.”

“Etika Debat dalam Islam”

Etika Berdebat

Dalam berdebat, ada etika dan aturan yang ditetapkan oleh para ulama. Adapun etika dan aturan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Mengedepankan ketakwaan kepada Allah

Debat yang dilakukan seorang muslim harus dilakukan dengan maksud mendekatkan diri kepada-Nya dan mencari ridha Allah dengan menjalankan perintahnya. Karena itu, debat harus dilakukan sebagai bentuk menyatakan bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Bukan diniatkan untuk mengalahkan lawan bicara atau mendapatkan posisi tertentu di mata manusia.

Sebelum memulai debat juga sebaiknya dimulai dengan niat memberikan loyalitas kepada Allah dan agama-Nya. Dan diawali dengan memuji Allah SWT. Bersyukur kepada-Nya, serta membaca shalawat kepada Nabi SAW. Selain itu, perlu juga untuk memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar diberi taufik atas perkara yang diridhai-Nya.

2. Menggunakan metode yang baik serta pandangan dan kondisi yang baik

Saat melakukan debat, sebaiknya lakukan dengan singkat dan padat dalam berbicara. Bicaralah sedikit, bermakna dan tepat sasaran. Sebab terlalu banyak berbicara berpeluang menimbulkan kesalahan karena dapat keluar dari makna yang sebenarnya hingga tidak tepat sasaran.

Dalam melakukan debat, Anda juga harus menyepakati sumber yang akan dijadikan rujukan dengan lawan debat. Semisal, jika melakukan debat dengan non-muslim, maka rujukannya adalah akal. Sedang jika berdebat dengan muslim, maka rujukannya adalah akal dan naql.

Baca Juga Bagaimana Islam Melihat Perbedaan

3. Tidak Mempermalukan Diri Sendiri

Seorang muslim harus menjaga diri dan tidak melakukan sesuatu yang dapat menurunkan harga dirinya. Misalnya dengan tidak melakukan hal bodoh atau melakukan hal yang membosankan seperti bicara bertele – tele. Selain itu, jangan juga berdebat dengan suara keras, kecuali sesuai kadar yang dibutuhkan agar orang-orang di sekitar yang menonton debat, dapat mendengarnya. Termasuk untuk tidak berteriak kepada lawan debatnya.

Meremehkan dan menghina keberadaan lawan debat juga sebaiknya tidak dilakukan oleh seorang muslim saat berdebat. Apalagi merasa benar atau menyalahi lawan debat. Sebab bisa saja lawan debat memiliki lebih banyak pengetahuan daripada kita.

Termasuk tindakan meremehkan adalah dengan berpaling kepada orang-orang yang menghadiri debat, baik karena berbeda pendapat atau bersepakat dengannya. Apabila lawan debat melakukan hal tersebut, maka nasihatilah. Namun apabila tidak mau berhenti, maka segeralah hentikan diskusi perdebatannya.

4. Tidak melakukan perdebatan di tempat-tempat yang dikhawatirkan

Jangan melakukan debat di tempat umum. Sebab berdebat di tempat umum harus menanggung resiko hinaan dari orang-orang serta resiko lain dari yang diucapkan. Tidak juga melakukan perdebatan di tempat penguasa yang di khawatirkan akan membahayakan diri.

Termasuk juga tidak berdebat dengan orang yang tidak disukai atau orang yang meremehkan ilmu. Baik rasa tidak suka ini muncul dari dalam diri atau dari pihak lawan. Karena hal ini biasanya akan berujung sebagai debat kusir yang hanya membuang – buang waktu saja.

5. Fokus ke materi debat dan terbuka pada kebenaran

Saat berdebat juga sebaiknya Anda fokus kepada materi debat. Jangan menyela lawan yang sedang memaparkan argumennya, dan juga pahami baik – baik apa yang disampaikan lawan bicara. Dengan begitu, jika Anda menyampaikan bantahan, bantahan yang Anda sampaikan juga sesuai dengan konteks debat.

Termasuk etika debat adalah tidak mengacaukan jawaban atau memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan. Selain itu, jangan berkepala batu dengan menerima kebenaran ketika kebenaran itu terlihat dari pihak lawan.

Dalam Islam pun, berdebat tidak dapat dilakukan asal – asalan. Anda harus memiliki dasar teori yang baik dan juga memiliki cara penyampaian yang baik. Dengan begitu, apa yang akan Anda sampaikan akan lebih mengena dan mudah diterima lawan bicara.

Comments

  1. Pingback: Etika Menasehati Dalam Islam | Dunia Islamku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *