Etika Menasehati Dalam Islam

duniaislamku.com

Dalam hadis riwayat Bukhari dikatakan bahwa, “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya, dia segera memperbaikinya.”

Berdasarkan hadis tersebut, cara memperbaiki aib yang dimaksudkan adalah dengan memberi nasihat. Sebab nasihat, jauh lebih bernilai daripada memberikan emas atau perak kepada saudara seiman kita. Dengan nasihat, manfaatnya dapat dirasakan di dunia hingga akhirat kelak.

Walau demikian, ada saja orang yang sulit menerima nasihat. Hal tersebut bisa jadi karena nasihat tersebut muncul tanpa memperhatikan adab atau etika penyampaiannya. Sementara dalam Islam, ada etika yang diajarkan untuk memberi nasihat kepada saudara seiman. Nah, berikut ini adalah etika dalam memberi nasihat adalah sebagai berikut:

1. Niat

Niat memberi nasihat haruslah untuk memperbaiki, bukan sebagai ajang pamer diri. Ajang pamer diri ini maksudnya memperlihatkan bahwa ‘diri’ lebih benar, lebih shaleh, atau lebih berilmu daripada yang dinasihati.

Memberi nasihat dalam kondisi merasa lebih baik dari yang dinasihati, akan berpengaruh pada pilihan kata yang akan digunakan. Tentu tidak ada yang nyaman jika dinasihati dalam posisi salah-benar. Oleh karena itu, berilah nasihat dalam posisi sama-sama masih belajar. Dengan demikian insya Allah nasihatnya akan lebih efektif.

“Etika Menasehati Dalam Islam”

2. Cukup Empat Mata

Memberikan nasihat cukup empat mata saja, atau berdua saja dengan yang dinasihati. Sebab sebaik-baik nasihat adalah yang dilakukan empat mata saja tanpa sepengetahuan siapapun. Bahkan kalau perlu, nasihatnya diberitahukan secara rahasia, baik waktu maupun tempatnya. Masih banyak yang keliru dalam memberi nasihat, seperti melakukannya di tempat umum. Padahal yang demikian tidak ada yang menyukainya.

Seperti dikatakan Imam Syafii dalam syairnya,
Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri,
dan jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian.
Karena nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk satu jenis pelecehan
yang aku tidak suka mendengarnya.
Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku,
maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti.

3. Berkata yang lembut

Sampaikanlah nasihat dengan kata-kata yang baik dan lembut. Sebab berteriak, menghina, merendahkan atau memaksa tidak termasuk dalam nasihat, walaupun tujuannya untuk kebaikan. Sebagaimana Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk menasihati Fir’aun yang sombong dan berbuat kerusakan serta congak tersebut, dengan berkata lembut kepadanya.

Dalam hadis riwayat Bukhari Muslim dikatakan, “Sesungguhnya Allah mencintai lemah lembut dalam segala perkara.”

4. Menasihati Diri Sendiri

Sebelum menasihati orang lain, ada baiknya bila kita memastikan akan hikmah dan manfaat dari nasihat yang akan kita berikan. Jangan sampai kita menasihati orang lain, akan tetapi kita sendiri tidak mengamalkan apa yang kita nasihati pada orang lain. Sungguh hal yang demikian itu tidak disukai oleh Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Qur’an Surat Ash-Shaff ayat 2-3:

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Baca Juga Etika Debat dalam Islam

5. Nasihat dengan Ilmu

Nasihatilah dengan ilmu, bukan dengan nafsu. Sebab tak sedikit orang yang menasihati tanpa ilmu, hanya mengira-ngira dan berprasangka saja. Ada baiknya, jika nasihat yang kita berikan ke orang lain, sesuai dengan ilmu yang kita miliki dan pernah pelajari. Sebab nantinya nasihat tersebut akan kita pertanggungjawabkan di akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam Qur’an Surat Al-Israa ayat 36:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”

Nah, itulah hal – hal yang harus diperhatikan saat memberi nasehat kepada sesama muslim. Selain itu, ada kalanya nasihat kita tidak diikuti. Untuk hal itu, kita harus tetap sabar. Sebab tidak ada alasan untuk berhenti memberi nasihat kepada saudara seiman. Jika kita bersabar, suatu hari orang tersebut juga akan berubah secara perlahan.

Comments

  1. Pingback: Hal yang Tidak Boleh Ditanyakan Kepada Orang Lain | Dunia Islamku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *