Kenapa Rasul Tidak Bisa Membaca?

duniaislamku.com

Saat ini, membaca menjadi suatu simbol orang – orang pintar. Orang yang banyak membaca sering identik dengan orang pintar dan senang belajar. Apalagi, Al-Qur’an pun memerintahkan orang – orang muslim untuk membaca.

Tapi kemudian timbul tanda tanya. Jika Allah menyuruh manusia untuk membaca, mengapa nabi Muhammad sebagai Rasulullah tidak bisa membaca?

Sebenarnya, pertanyaan “Mengapa nabi Muhammad tidak bisa membaca?” tidaklah terlalu tepat. Akan tetapi, lebih tepat jika pertanyaannya adalah “Mengapa Nabi Muhammad tidak membaca?”

Ya, Allah pasti memiliki rencana yang luar biasa dibandingkan dengan pengetahuan manusia. Nabi Muhammad bukannya diciptakan dengan kekurangan tidak bisa membaca, tapi karena Allah menyiapkan Nabi Muhammad dengan keutamaan seperti itu untuk menjaga kesucian wahyu.

Ada beberapa alasan mengapa Rasulullah tidak membaca pada saat itu.

1. Tidak banyak orang yang menulis

Pada masa itu, sastra adalah sesuatu yang luar biasa dan dikagumi. Jika Anda datang ke pasar – pasar, maka akan banyak orang yang menggubah syair secara langsung. Mereka melantunkan syair dan didengarkan oleh orang – orang. Meski begitu, tidak banyak orang yang mencatat dan menggubah syair dengan tulisan.

Beberapa orang memang menulis, namun tidak semua orang menulis. Karena itu, mencari orang yang mampu menulis sangat sedikit. Karena tidak banyak orang yang menulis, maka sedikit pula yang bisa dibaca.

Hal ini juga terlihat dari bagaimana orang – orang mencatat hadits ataupun Al-Qur’an yang turun. Karena tidak banyak orang yang menulis, maka tidak banyak juga alat tulis yang ada. Karena tidak ingin melupakan wahyu yang mereka dengar, maka para sahabat menuliskan teks al-Qur’an dan hadits dalam media apa saja yang mereka temukan. Beberapa orang menulis di atas kulit, beberapa lainnya menulis di atas tulang atau dengan apa saja.

2. Ingatannya kuat

Meskipun tidak banyak orang yang mencatat syair, wahyu, ataupun hal lainnya dalam bentuk tulisan, namun ingatan orang pada masa itu sangatlah kuat. Banyak dari orang – orang Arab pada masa itu yang mampu mengingat suatu kalimat persis sama seperti aslinya hanya dengan sekali dengar.

Orang – orang dengan kemampuan ini merupakan orang yang dikatakan cerdas pada masa itu. Meskipun mereka baru pertama kali mendengar sesuatu, mereka dapat mengingat dan menyampaikannya kepada orang lain dengan susunan kata dan urutan yang sama persis.

Bagi orang – orang dengan hafalan yang kuat seperti ini, menulis bukanlah hal yang terlalu penting karena tanpa menulis pun mereka sudah dapat mengingat suatu perkataan dengan sangat baik.

3. Menjaga kemurnian wahyu

Sama alasannya mengapa orang tua Nabi Muhammad meninggal sejak kecil, Rasulullah pun tidak membaca untuk menjaga kemurnian wahyu.

Misalnya seperti ini. Sebagai seorang anak, tentu ilmu pertama yang mereka dapatkan biasanya berasal dari orang tua. Bagaimana orang tuanya mendidik, maka mereka akan tumbuh dengan hal itu. Termasuk landasan berpikirnya juga akan mengikuti orang tuanya.

Ketika seseorang tumbuh besar, maka ia akan belajar dari apa yang ia baca atau temukan. Rasulullah yang tidak membaca dan lingkungan yang selalu dijaga langsung oleh Allah menjadikan landasan berpikirnya tetap murni hingga ia siap menerima wahyu.

Sehingga, ketika Rasulullah menyampaikan wahyu dari Allah kepada ummatnya, maka tidak aka nada yang mengatakan bahwa ia hanya menyampaikan apa yang ia dapatkan dari orang tuanya atau dari apa yang ia baca.

Dengan cara ini, Allah menjaga kemurnian wahyu dan juga utusannya secara langsung.


Itulah beberapa alasan mengapa Rasulullah tidak membaca. Meskipun begitu, Nabi Muhammad sebagai Rasulullah tidak pernah berhenti mempelajari kekuasaan Allah melalui ciptaan-Nya.

Dan meskipun beliau tidak membaca tulisan, namun beliau memiliki orang kepercayaan yang menjadi sekretarisnya, yaitu Hanzalah yang mendapat gelar al-Kaatib.

Selain Hanzalah, Rasulullah juga memiliki Zaid bin Tsabit, seorang sahabat yang dapat menerjemahkan surat – surat dalam bahasa non – arab untuk Rasulullah. Beberapa surat yang pernah diterjemahkan Zaid bin Tsabit adalah surat dalam bahasa Ibrani dan Suryani. Dua bahasa ini dipelajari Zaid hanya dalam 16 hari dan 17 hari saja.

Tags Artikel : Mengapa Rasulullah tidak membaca. Mengapa nabi Muhammad tidak bisa membaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *