Kiat-Kiat Mengatur Emosi Ala Islam

Kiat-Kiat Mengatur Emosi Ala Islam

Islam adalah agama kebajikan, di tiap ajarannya terdapat kasih sayang dan petunjuk, yang berguna untuk menuntut manusia dari jalan kejahilan menuju tempat yang lebih baik. Hal ini bukan semata-mata mengenai materi dan uang yang berlimpah, namun juga bagaimana Islam menunjukkan jalan untuk mencapai hati dan perasaan yang damai dan tenang. Salah satu bahasan mengenai ini adalah melalui sederet kisah Rasulullah SAW dan bagaimana beliau sangat ahli dalam memanajemen emosi yang dimiliki. Bahkan Rasulullah SAW tidak pernah menghardik, walaupun yang menghinanya adalah orang-orang yang memeluk keyakinan di luar Islam. (baca juga Berbagai Cara Menenangkan Pikiran dan Hati Yang Gelisah Dan Kacau Menurut Islam)

Perjalanan menyiarkan Islam yang dilakukan oleh Rasulullah SAW penuh dengan tantangan, namun bagaimana bisa beliau menjaga emosi dan amarahnya untuk tidak meluap? Ternyata Islam punya jawabannya.

Rubah Posisi Tubuh untuk Meredakan Emosi

Dikisahkan oleh Abu Dzar R.A, seorang sahabat Rasulullah SAW mendatanginya dan menanyakan perkara apa saja yang dalam Islam merupakan sebuah keutamaan. Rasulullah SAW menjawab bahwa menahan amarah merupakan hal yang begitu diutamakan untuk diri tiap muslim. Sebegitu pentingnya manajemen emosi dalam Islam, sampai Rasulullah SAW mengatakan decara langsung keutamaannya. Lalu sahabat tersebut bertanya kembali bagaimanakah cara yang paling tepat untuk mengatasi amarah yang bergejolak dalam hati? Rasulullah menyebutkan untuk mengubah posisi tubuhnya. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali samai diri merasa lebih tenang, dan rasa untuk melampiaskan emosi dengan sembarangan sudah lebih mereda.

Secara psikologis, seseorang yang berada dalam posisi yang tinggi akan menjadi lebih gampang untuk mengeluarkan amarah dan kesalnya kepada hal-hal di sekelilingnya. Oleh sebab itu ketika Anda tengah marah dan dalam posisi berdiri, Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengubah posisi menjadi lebih rendah, yaitu dengan duduk. Namun jika amarah itu masih ada dan belum hilang, maka Anda dianjurkan untuk berbaring. Seseorang yang berada pada posisi rendah akan lebih kesulitan untuk meluapkan emosinya dan berlaku semena-mena.

Ademkan hati dengan wudhu

Ketika sedang marah, emosi yang terasa pasti sangat panas di hati. Rasanya seperti ingin dilampiaskan secara langsung dan membuat jera orang-orang yang telah melukai Anda. Namun dalam Islam, adab mengontrol marah bukanlah seperti Ini. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, bahwa Islam memandang amarah sebagai sesuatu yang dibawa oleh setan. Sikap kasar, rasa benci, dan keinginan untuk menyakiti orang lain untuk mebalas dendam merupakan prinsip setan. Untuk mengatasi hati yang panas, Islam menganjurkan kita untuk mengatasinya dengan wudhu. Sifat panas yang dibawa oleh setan, yang berasal dari api, akan bisa disejukkan dengan air wudhu.

Selain karena memang secara literal air wudhu dimaksudkan untuk menghilangkan api yang berasal dari setan, aktifitas berwudhu juga dianjurkan untuk membantu kita kembali pada hal-hal baik. Ketika berwudhu dan melafadzkan niat, kita akan kembali menyadari bahwa segala hal yang dilakukan berasal dari Allah SWT dan akan kembali pula padanya. Karena itu kita akan menjadi lebih ikhlas dan bisa menerima keadaan dengan lebih tenang. Berbeda hasilnya ketika sedang marah, dan malah dibiarkan tanpa respon yang menenangkan.

Melampiaskan amarah bukanlah adab yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dalam tiap aktifitasnya, baik yang bersinggungan dengan sesama muslim ataupun kerabatnya yang memeluk ajaran lain, atau bahkan mereka yang memusuhinya, Rasulullah selalu mengutamakan manajemen emosi dalam dirinya. Semuanya untuk bisa menyampaikan rasa kasih dalam Islam.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*