Kisah Siti Masyitoh, Putri Islam yang Mulia

Kisah Siti Masyitoh, Putri Islam yang Mulia

Apakah Anda ingat dengan lagu Wahai Masyitoh yang biasanya waktu kecil kita dengar saat mengaji. Sebagian mungkin ada juga yang belum pernah mendengarnya namun hampir di setiap tempat mengaji anak-anak lagu ini selalu dilagukan karena memiliki arti yang sangat dalam yaitu mengisahkan Putri Masyitoh yang diperlakukan kejam oleh Raja Fir’aun.

Lagu ini mengisahkan seorang wanita bernama Siti Masyitoh yang merupakan salah satu tukang sisir dari anak Fir’aun dan juga bertugas untuk mengurus semua anak-anak Fir’aun. Walaupun Siti Masyitoh merupakan pekerja di Kerajaan Fir’aun ternyata diam-diam dia adalah pengikut Nabi Musa yang tentunya mempercayai bahwa tuhan mereka adalah Allah SWT.

Pada suatu waktu, saat menyisir rambut putri Fir’aun, Masyitoh tidak sengaja menjatuhkan sisir tersebut dan dengan refleks ia mengatakan Allah, dalam hal ini ada beberapa penceramah yang mengatakan bahwa pada waktu itu Siti Masyitoh mengatakan “Bismillah” ada juga yang mengatakan “Astagfirullah”.

Dengan perkataannya tersebut membuat Putri Fir’aun penasaran dengan apa itu Allah karena ia belum pernah mendengarnya. Pada waktu itulah Siti Masyitoh menjelaskan bahwa “Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu” setelah itu ternyata Putri Fir’aun menceritakan kepada ayahnya dan membuatnya marah dan memanggil Siti Masyitoh. (Baca Juga: Kisah Dibalik Tidak Wajibnya Berkerudung)

Ia dipanggil untuk mengakui apakah ia adalah pengikut Nabi Musa ? dan ia pun menjawab benar. Hal tersebut semakin membuat raja Fir’aun semakin geram dan mengancamnya untuk kembali menyembahnya atau memilih dibunuh dengan semua anggota keluarganya.

Dengan keyakinan yang penuh, Siti Masyitoh dengan pasti memilih mati karena menurutnya akan lebih baik mati daripada harus menyembah Fir’aun. Hal tersebut semakin membuat Fir’aun semakin marah dan melanjutkan untuk mengeksekusi mati Siti Masyitoh beserta anggota keluarganya.

Ada yang mengatakan Fir’aun menyiapkan patung sapi yang dipanaskan hingga meleleh, ada juga yang mengatakan Fir’aun menyiapkan belanga besar berisi air mendidih. Pada hari eksekusinya Fir’aun memberikan pilihan lagi apakah Ia tidak kasihan dengan anaknya yang masih bayi dan masih butuh susu dari ibunya.

Pada saat itu Siti Masyitoh sempat bimbang karena kasihan kepada anaknya yang masih bayi. Akan tetapi Pertolongan Allah pun tiba. Anaknya yang masih bayi tersebut tiba-tiba bisa bicara dan meyakinkan Ibunya untuk tetap berada di jalan Allah SWT, sehingga hatinya menjadi yakin kembali.

Namun ia meminta untuk membungkus tulang belulang mereka dan dikuburkan dan Fir’aun pun mengiyakan. Semua anggota keluarga Masyitoh satu persatu dimasukkan dalam belanga tersebut akan tetapi atas kuasa Allah SWT, Ia beserta keluarganya ternyata sudah dicabut nyawanya terlebih dahulu sehingga tidak merasakan sakit.

Pada perjalanan Isra’-nya Nabi Muhammad bertanya pada Jibril kuburan siapa yang wangi tersebut, dan Jibril menjawab itu adalah kuburan Siti Masyitoh.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*