Mengapa Kita Harus Belajar Memaafkan?

Mengapa Kita Harus Belajar Memaafkan?

Perkara hati seseorang memang tidak ada yang bisa mengetahuinya. Sebagai makhluk, setiap diri pasti memiliki keterbatasan dalam hal pengetahuan dan pikiran. Hal ini menyebabkan adanya gesekan-gesekan kesalahpahaman ketika Anda berinteraksi sehari-hari. Saat hal ini terjadi, kadang Anda khilaf dan merasa tersakiti hatinya, kemudian menyimpan luka itu dan dibiarkan menumpuk hingga lama. Dalam Islam sendiri, perilaku menyimpan dendam bukanlah hal yang terpuji, sebab akan mendatangkan penderitaan bagi diri sendiri, dan memberikan imbas buruk pada orang lain. Oleh sebab itulah Islam menganjurkan tiap-tiap muslim untuk belajar bagaimana caranya menerima kekurangan orang lain, dan memaafkannya.

Menyembuhkan hati yang terluka

Tiap perkataan dan perilaku orang lain yang tidak sesuai dengan keinginan yang dimiliki pasti berpotensi menimbulkan perasaan kesal dan sakit hati. Hal ini terus terjadi seiring dengan interaksi yang Anda lakukan setiap harinya. Jika terus seperti ini, maka hati Anda akan dipenuhi oleh rasa sakit dan ingatan buruk. Akibatnya akan menghabiskan energi baik yang anda miliki. Memaafkan berarti menerima bahwa tiap makhluk adalah kodratnya untuk memiliki khilaf dan salah. Dengan menyadari ini, anda akan lebih mudah untuk melepaskan khilaf yang telah terjadi, sebab mengetahui bahwa Andapun pasti memiliki banyak kekurangan pula. Saling mengerti dan memaafkan, akan membuat perasaan dan pikiran menjadi lebih ringan.

Tidak membalas hal buruk dengan buruk pula

Islam mengajarkan untuk merespon hal buruk yang terjadi pada diri ini, tidak dengan keburukan pula, melainkan dengan kebaikan. Kisah ini pernah terjadi pada salah satu sahabat Rasulullah SAW, Yaitu Abu Bakar R.A. Abu Bakar marah ketika mendengar putrinya, Aisyah R.A mendapat fitnah perselingkuhan, yang disebarkan oleh sepupunya yang bernama Misthah. Mendengar ini Abu Bakar R.A langsung bersumpah untuk berhenti memberikan santunan padanya.

Mengetahui hal ini, Allah SWT menegurnya melalui Q.S an-Nuur : 22, yang berisi tentang larangan untuk Abu Bakar R.A menghentikan santunannya kepada saudaranya, karena merasa marah. Allah swt berfirman bahwa hendaklah tiap orang yang merasakan amarah dan kekesalan hati mau memaafkan dan bersedia berlapang dada. Sebab dalam tiap maaf yang juga dilantunkan olehnya, akan senantiasa dipandang Allah SWT sebagai sebuah sikap yang terpuji dan mengasihi.

Dalam cerita ini dapat dilihat bagaimana Allah SWT tidak menyukai orang-orang pendendam, yang membalas keburukan dengan keburukan. Malah Allah memerintahkan hambanya untuk berlapangdada dan memaafkan, sebagaimana Ia Maha Mengampuni dan Maha Menyayangi.

Membawa kebaikan dan kedamaian

Manusia adalah makhluk yang memiliki banyak alfa. Karena itu dalam kesehariannya manusia pasti melakukan kesalahan, baik itu yang disadari ataupun tidak. Jika hal ini kemudian terus diperbincangkan, dibesarkan, dan tidak ada sikap menerima, maka bisa dipastikan tidak akan ada kedamaian. Tiap orang akan melakukan penghitungan akan kesalahan orang lain, untuk kemudian melakukan pembalasan. (Baca Juga Kiat-Kiat Mengatur Emosi Ala Islam )

Hal ini yang tidak disukai Allah SWT. Ia berfirman bahwa di antara ciri-ciri makhluk yang disukainya, adalah mereka yang bisa menahan amarah dan mau memaafkan sesamanya. Dalam Surat Ali Imran ayat 134, Allah SWT berfirman bahwa Ia menyukai mereka yang meluangkan hartanya untuk menafkahi saudara dan orang-orang tidak mampu. Juga mengapresiasi mereka yang mau menekan rasa marahnya dan bersedia memberikan pemaafan bagi orang lain. Karena sesungguhnya yang seperti itulah yang menggambarkan kebajikan dan kedamaian Islam.

Tugas manusia di dunia adalah menjaga apa yang diberikan oleh Allah, sebagai seorang khalifah. Dalam menjalankan misi ini, sikap mau memaafkan dan bersedia berlapangdada adalah hal yang harus dimiliki. Tanpa kesadaran ini, Islam bukanlah lagi jalan yang menuju kedamaian.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*